Kadar Gula Darah dan Hal yang Dapat Mempengaruhinya

Salam sahabat Muhammad Ali Life. Dewasa ini, pemeriksaan laboratorium klinik adalah faktor penunjang yang penting dalam membantu menegakkan diagnosa suatu penyakit. Salah satunya pemeriksaan glukosa darah. Glukosa darah merupakan gula yang berada didalam darah yang terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan dalam glikogen di hati dan otot rangka. Hormon yang mempengaruhi kadar glukosa adalah insulin dan glukagon yang berasal dari pankreas. Nilai rujukan kadar gula dalam serum / plasma 70 - 110 mg/ dl, gula dua jam postprandial 140 mg /dl/ 2 jam dan gula darah sewaktu  110 mg/dl (Joyce 2013).

Kadar glukosa darah yang tinggi dapat disebabkan Karena adanya berbagai faktor yaitu konsumsi makanan yang tinggi lemak, karbohidrat  sederhana dan makanan olahan dengan kurang aktifitas fisik dan olahraga berkaitan dengan peningkatan kadar gula darah ( Ayu,2015). Diabetes melitus (DM) merupakan sekelompok gangguan metabolik dangen gejala umum hiperglikemia. Penyakit ini merupakan suatu kelompok Penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,kerja insulin,atau keduanya. Beberapa proses patologis terlibat dalam terjadinya diabetes, mulai dari perusakan sel pada prankreas dengan konsekuensi definisi insulin, sampai abnormalitas yang berujung pada resistensi insulin (Firgiansyah,2016). Gula darah memang sangat berpengaruh pada konsumsi makanan yang dikonsumsi oleh seseorang. Jumlah, jenis maupun waktu. Secara umum gula darah seseorang akan sangat berbeda Jika ia bangun tidur, mau tidur ,beraktivitas. Angka gula darah seseorang akan berubah manakala melakukan aktivitas periksaan setelah makan( Setiadi,2007).



Gula darah sewaktu merupakan salah satu pemeriksaan kimia yang bertujuan untuk screening diabetes melitus sebagai upaya deteksi dini terhadap penyakit ini (Dewi,2008). Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan strip dengan prinsip enzim glukosa oksidase dan menggunakan teknologi biosensor yang spesifik untuk pengukuran glukosa. Pada tahap ini perlu diperhatikan tahap pra analitik, analitik, dan post analitiknya ( Sugiarti,2010).

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah yang diambil baik kapan saja, tanpa memperhatikan waktu makan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk dapat mengetahui kadar glukosa dalam darah sewaktu. Pemeriksaan kadar glukosa yang baik dan sering dilakukan yaitu pemeriksaan glukosa darah sewaktu, karena pemeriksaan ini sendiri bertujuan untuk upaya mendeteksi dini penyakit DM. Adanya upaya deteksi dini DM dengan melakukan  screening diharapkan dapat menurunkan risiko komplikasi dan meningkatkan upaya pengendalian sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang umur hidup pennderita. Pemeriksaan ini cukup efektif dan tergolong mudah dikarenakan kita dapat mengambil sampelnya sewaktu-waktu ( Maulana,2009 ).

Berdasarkan data dari badan kesehatan dunia ( WHO ) tahun 2014, diketahui penderita diabetes melitus di dunia  saat ini telah mencapai 200 juta jiwa dan akan terus bertambah mencapai 350 juta jiwa pada tahun 2020. Sedangkan menurut data riset kesehatan dasar ( RISKESDAS,2013 ) di Indonesia diperkirakan jumlah penderita diabetes melitus yang ada hingga saat ini berjumlah 8 juta jiwa dan diperkirakan jumlahnya melebihi 21 juta jiwa hingga tahun 2025.

Penurunan kadar gula darah (hipoglikemia) terjadi karena asupan makanan yang tidak akurat Atau darah banyak mengandung insulin. Peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) Karena insulin yang menyebar, beredar dan karena insulin tidak mencukupi, kondisi ini disebut sebagai diabetes melitus.

Metabolisme  Glukosa

Karbohidrat yang terdapat dalam makanan berupa polimer heksana yaitu glukosa,galaktosa,dan fruktosa. Dalam keadaan normal glukosa fosforilasi menjadi glukosa-6-fosfat. Enzim yang mengkatalisis adalah heksokinase. Kadarnya  dapat meningkat oleh insulin dan juga menurun pada keadaan kondisi kelaparan dan diabetes. Sedangkan glukosa kemungkinan dapat disimpan di hati atau otot sebagai glikogen. Glikogen bekerja saat aktivitas otot dan glukosa darah terisi sesuai dengan kebutuhan ( Pearce,2013).

Metabolisme glukosa menghasilkan asam piruvat, asam laktat, dan asetilkoenzim A (Asetil- KoA), yang dapat menghasilkan energi. Glukosa kemudian dapat disimpan di hati atau otot sebagai glikogen, suatu polimer yang terdiri dari  banyak residu glukosa dalam bentuk yang dapat dibebaskan dan dimetabolisme sebagai glukosa. Hati juga dapat mengubah glukosa melalui jalur-jalur metabolic lain menjadi asam lemak yang disimpan sebagai trigliserida atau asam amino yang digunakan untuk membentuk protein. Karena besarnya volume dan kandungan  enzim untuk berbagai konversi metabolik, hati berperan untuk mendistribusikan glukosa menjadikan energi. Sebagian besar yaang  terdapat energi untuk fungsi sel dan jaringan berasal dari glukosa ( Sacher,2012).

Hormon yang mempengaruhi kadar glukosa

Hormon insulin

Hormon insulin diproduksi di dalam pankreas oleh sel sel beta  pulau  langerhans, hormon ini dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan penyimpanan glukosa sebagai glikogen atau perubahan asam lemak serta meningkatkan masuknya glukosa ke dalam sel ( Suyono,2012).

Hormon insulin   saangat memegang peranan pokok dalam pengaturan pada konsentrasi glukosa darah. Insulin dihasilkan oleh sel-sel beta pulau langerhans dalam pankreas dan disekresi kedalam darah dan sebagai respon langsung terhadap hyperglikemia. Konsentrasi dalam darah sejajar dengan konsentrasi glukosa zat yang menyebabkan pengeluaran insulin adalah asam-asam amino,sekretin,dan tolbutamid. Epinefrin dan norepinefrin menghambat pengeluaran insulin. Invitro dan mungkin invivo, insulin mempunyai efek yang sangat langsung pada jaringan seperti jaringan adiposa dan otot dalam menaikkan kecepatan uptake glukosa. Diduga bahwa kerja ini dapat disebabkan karena peningkatan transport glukosa melalui membran sel.

Sekresi insulin terutama diatur oleh konsentrasi gula darah. Kadar glukosa darah pada waktu normal puasa adalah 80 sampai 90 mg/100 ml  kecepatan sekresi insulin minimum. Waktu konsentrasi glukosa darah meningkat diatas 100 mg/100 ml darah, kecepatan sekresi insulin meningkat cepat mencapai puncaknya yaitu 10 sampai 20 kali tingkat konsentrasi glukosa darah antara 300 dan 400/100 ml. Jadi peningkatan sekresi insulin yang diakibatkan rangsangan glukosa adalah dramatis dalam kecepatan dan sangat tingginya kadar sekresi yang dicapai. Selanjutnya penghentian sekresi insulin hampir sama cepat,terjadi dalam beberapa menit setelah pengurangan konsentrasi glukosa darah kembali ketingkat puasa.

Insulin merupakan hormon yang berfungsi sebagai second massager yang merangsang dengan potensial listrik. Beberapa peristiwa yang terjadi setelah insulin dengan reseptor membran :
1. Terjadi perubahan bentuk reseptor.
2. Reseptor akan berikatan silang dan membentuk mikroagregat.
3. Reseptor diinternalisasi
4. Dihasilkan 1 atau lebih sinyal.

Setelah peristiwa tersebut, glukosa akan masuk kedalam sel dan membentuk glikogen. Insulin yang telah terpakai akan di metabolisme. Ada dua mekanisme untuk metabolisme insulin :

  1. Melibatkan enzim protese spesifik insulin yang terdapat pada banyak jaringan, tetapi banyak terdapat pada hati,ginjal dan plasenta.
  2. Melibatkan enzim hapatik glutation insulin transhidrogenase, yang mereduksi ikatan disulfida dan kemudian rantai A dan B masing-masing diuraikan dengan cepat ( Soegondo,2007).

Hormon glukagon

Hormon glukagon diproduksi di dalam prankreas oleh sel-sel alfa pulau langerhans, hormon ini dapat meningkatkan kadar glukosa dengan meningkatkan glukosa  ini pembebasan glukosa dari glikogen (Sacher,2012).

Sekresi dirangsang oleh hypoglikemia dan bila sampai hati ( melalui vena porta), menyebabkan glikogenolisis dengan mengaktifkan fosforilase dengan cara yang sama seperti epinefrin. Sebagian besar glukagon dikeluarkan melalui peredaran hati Tidakseperti  epinefrin glikogen tidak memilikin efek terhadap Fosforilse otot. Glukagon juga menambah glukoneogenesis dan  glikogenesis hati ikut berperan dalam proses pada efek  hiperglikemik   glukagon dari glukagon( Setiadi,2007).

Hormon Pertumbuhan

Hormon pertumbuhan adalah merupakan hormon yang terbentuk di hipofisis anterior yang memiliki  efek metabolik melawan kinerja insulin. Hormon ini juga  dapat meningkatkan kadar glukosa darah (Murray,2005).

Hormon Tiroid

Hormon tiroid merupakan hormon metabolisme utama didalam tubuh yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang larut dalam lemak. Hormon tiroid terkait dengan oksidasi glukosa, laju metabolisme atau mengatur metabolisme, meningkatkan sintesis protein,serta mempunyai efek meningkatkan kadar glukosa darah ( Suryono,2009).

Hormon Epinefrin

Hormon Epinefrin di sekresi oleh medula adrenal akibat rangsangan yang menimbulkan stress dan menyebabkan glikogenesis di hati dan otot. Hormon ini dapat meningkatkan kadar glukosa darah
( Murray,2007 ).

Hormon Somatostatin

Hormon Somatostatin diproduksi didalam sel D pankreas. Hormon ini juga dapat meningkatkan kadar glukosa darah ( Sacher,2012 ).

Hormon Kortisol

Hormon Kortisol  disekresi oleh korteks adrenal, hormon ini dapat meningkatkan kadar glukosa darah dengan mensintesis glukosa dari asam amino ( Sacher,2012 ).

Hormon ACTH

Hormon ACTH merupakan suatu hormon yang terbentuk di hipofisis anterior. Hormon ini dapat meningkatkan kadar  glukosa darah ( sacSac,2012 ).

Keadaan yang berhubungan dengan kadar glukosa darah abnormal

Hipoglikemia

Hipoglikemia adalah suatu penurunan  pada kadar glukosa darah yaitu kurang dari 50 mg/ 100 ml darah. Hipoglikemia kemungkinan disebabkan karena puasa dan olahraga, olahraga dapat meningkatkan penggunaan glukosa oleh sel-sel otot rangka. Kelebihan hipoglikemia dapat disebabkan karena berlebihnya dosis insulin pada penderita diabetes militus. Hipoglikemia menyebabkan beberapa gejala gangguan fungsi sistem syaraf pusat diantaranya konfusi iritabilitas,  kejang,dan koma ( Elizabeth,2009 ).

Hiperglikemia

Hiperglikemia adalah peningkatan kadar glukosa darah yaitu rentang nilai glukosa puasa 126 mg/100 ml  darah. Hiperglikemia kemungkinan disebabkan oleh suatu defisiensi insulin atau penurunan responsivitas sel terhadap insulin. Hormon yang bisa meningkatkan glukosa darah yaitu hormon tiroid, prolaktin dan hormon pertumbuhan ( Elizabeth,2009 ).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar glukosa

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan glukosa bervariasi adalah tergantung dari metabolisme makanan menjadi glukosa oleh tubuh dan bagaimana tubuh mengelolah glukosa darah tersebut. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemeriksaan kadar  glukosa  diantaranya:

Makanan dan minuman

Konsentrasi glukosa darah sangat bervariasi, tergantung pada respon metabolisme yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Pada orang normal, konsentrasi glukosa meningkat selama jam pertama atau setelah makan, tetapi sistem umpan balik yang mengatur kadar glukosa darah dengan cepat mengembalikan konsentrasi glukosa kenilai kontrolnya, biasanya terjadi dalam waktu 2 jam sesudah absorbsi karbohidrat yang terakhir. Nilai normal glukosa darah dalam dua jam postprandialialah <140mg/dl  ( Guyton,2010 ).

Karbohidrat adalah salah satu bahan makanan utama yang diperlukan oleh tubuh. Sebagian besar karbohidrat yang kita konsumsi terdapat dalam bentuk polisakarida yang tidak dapat diserap secara langsung. Karena itu, karbohidrat harus dipecah menjadi bentuk yang lebih sederhana untuk dapat diserap melalui mukosa saluran pencernaan (sherwood,2012).

Karbohidrat yang masuk kesaluran cerna akan dihidrolisis oleh enzim pencerna. Ketika makanan dikunyah didalam mulut, makanan tersebut tercampur dengan Saliva yang mengnmenga enzim ptialin ( a- amilase ). Tepung (starch) akan dihidrolisis oleh enzim tersebut menjadi disakarida maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya ( Guyton,2008 ).

Sesampainya di lambung, enzim ptialin menjadi tidak aktif akibat Suasana Lambung yang asam. Proses pencernaan ini akan dilanjutkan di usus halus yang merupakan muara dari sekresi pankreas. Sekresi pankreas mengandung a-milase yang lebih baik dari pada a-amilase saliva. Hampir semua karbohidrat telah diubah menjadi maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya sebelum melewati duodenum atau jejunum bagian atas (Guyton,2008).

Disakarida dan polimer glukosa kecil ini kemudian akan dihidrolisis oleh enzim disakaridase yang terdapat pada vili enterosit usus halus. Proses ini terjadi ketika disakarida berkontak dengan enterosit usus halus menghasilkan monosakarida yang dapat diserap ke aliran darah (Guyton,2008).

Kebanyakan karbohidrat dalam makanan akan diserap ke dalam aliran darah dalam bentuk
monosakarida glukosa. Jenis gula lain akan diubah oleh hati menjadi glukosa ( Murray,2009 ).

Penyakit

Beberapa jenis penyakit dapat mempengaruhi metabolisme glukosa. Di antaranya yaitu penyakit pankreas dan hati, infeksi dan keganasan. Insulin dan glukagon dihasilkan oleh pankreas, sehingga ketika terdapat penyakit pada pankreas maka konsentrasi glukosa darah dapat terganggu, baik menjadi hiperglikemia / hipoglikemia. Kenaikan kadar glukosa darah karena infeksi dapat terjadi karena peningkatan Basal Metabolism Rate (BMR) dan glikolisis anaerob ( Purwanto,2009 ).

Penyakit pada hati dapat menimbulkan hipoglikemia akibat kegagalan degradasi insulin. Kebanyakan insulin didegradasi oleh hati dalam waktu kurang lebih  1 jam setelah insulin dikeluarkan kedalam darah ( waktu paruh insulin 70 menit ) ( Papper, 2007 ).

Sel kanker mengkonsumsi glukosa dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah sel yang ada di sekelilingnya. Kecepatan pertumbuhan sel kanker yang mencerminkan tingkat keganasannya sebanding dengan tingkat konsumsi glukosa (Nurhadi,2008).

Hormon

Konsentrasi glukosa didalam darah diatur oleh beberapa hormon, terutama insulin dan glukagon. Glukagon menaikkan konsentrasi gula darah dengan mendorong glikogenolisis didalam liver. Sekresi glukagon dipengaruhi oleh konsentrasi gula darah, tetapi berlawanan dengan mekanisme pada insulin (Lili,2008).

Selain itu aktivitas insulin dapat meningkatkan sintesa glikogen, menurunkan glukoneogenesis, dan mengontrol masuknya glukosa ke dalam sel. Ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin atau gagal meresponnya dengan benar,glukosa darah akan meningkat keadaan inilah yang disebut diabetes militus ( Guyton,2010).

Genetik

Selain meningkatkan kadar glukosa darah, faktor genetik juga dapat mengakibatkan penurunan kadar glukosa darah. Glukokinase adalah enzim pengatur dalam sel beta pankreas dan mengkatalisis sel beta dalam metabolisme glukosa. Mutasi GCK ( T651 dan W99R) dapat meningkatkan kejadian hipoglikemia familial karena terjadi perubahan fenotip ( mutasi gen kanal K+ sensitif ATP ) yang terlihat dengan jelas (Gloyn et al,2013).

DAFTAR PUSTAKA

Apariminta. 2009. Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah Oleh Bubuk Kedelai Putih (Glycine Max) Pada Tikus Putih Dengan Kadar Glukosa Darah Normal.

Surakarta. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Ed 3. Jakarta: Egc.

Dewi. et all. 2013. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kelopak Bunga Rosella (Hibiscus Sabdariffa) Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe Ii Di Puskesmas Palangka Raya Kalimantan Tengah. Jakarta. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus. Jakarta. 

Desiana . 2012. Perbedaan Kadar Glukosa Darah Pada Tikus Wistar Jantan (Rattus Norvegicus) Setelah Terpapar Stresor Renjatan Listrik.

Jember. Universitas Jember. Dorland, W.A. Newman. 2011. Kamus Kedokteran. (Albertus Agung Mahode Et Al, Penerjemah). 
Jakarta : Egc. Dyah . 2015. Hubungan Antara Konsumsi Karbohidrat Dan Kolesterol Kadar Glukosa Darah Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe Ii Rawat Jalan Di Rsud Dr. Moewardi. Surakarta. 

Universitas Muhammadiyah Surakarta. Firgiansyah Andi. 2016. Perbandingan Kadar Glukosa Darah menggunakan Spektrofotometer Dan Glukometer. Semarang. 

Universitas Muhanadiah Semarang. Gandasoebrata.R. 2010. Penuntun Laboratorium Klinik. Cetakan Ke-10. 

Jakarta: Dian Rakyat. Gumilang M. 2014. Hubungan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar. Surakarta.

 Universitas Muhammadiyah Surakarta. Guyton A.C. 2000. Fisiologi Kedokteran. Edisi Ke-10. 

Jakarta: Egc Henrikson J.E . 2009 Blood Glucose Levels. Diakses 4 april 2017. Indriani D. 2014. Faktor Pencetus Diabetes Mellitus (Dm) Hasil Pemeriksaan Pada Pasien Di Laboratorium Poliklinik Rumah Bersalin Muhammadiyah Desa Sumberpucung Kecamatan Sumber pucung Kabupaten Malang. 

Malang .Universitas Muhammadiyah Malang. Joyce. 2013. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik Edisi 6. Jakarta : Egc. Kardika. Dkk. 2013.Preanalitik Dan Interprestasi Glukosa Darah Untuk Diagnosis Diabetes Melitus. Khoirul. 2015. Perbedaan Kadargula Darah Sebelumdan Sesudah Senam Diabetes Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Persadia Rumah Sakit Sari Asih Ciputat. 

Jakarta. Uin Syarif Hidayatullah Jakarta. Kosasih En. 2008. Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik. Jakarta : Karisma Publising Group. Lili. 2008. Nutritional Food Safety. Manaf. 2006. Insulin; Buku Ajar :Ilmu Penyakit Dalam, Jilid Iii, Edisi Iv. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fkui. Marks, et al.l. 2005.Biokimian Kedokteran Dasar Sebuah Pendekatan Klinis. Jakarta : Egc Kedokteran. Mila. 2016. Pengaruh Air Rebusan Daun Insulin ( Tithonia Deversifolia (Hemsl.) A. Gray) Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Jantan Galur Wistar Yang Terbebani Glukosa. 

Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Murray, Robert K. 2014. Biokimia Harper (Harper’s Illutrated Biochemistry) Edisi 29. Jakarta : Egc. Nike. 2009. Mengenal Hipoglikemia. Nugraha, Gilang .2015.Panduan Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Dasar. 

Jakarta: Cv Trans Info Medika. Nurhadi R. 2008. Menyongsong Era Baru Kedokteran Nuklir Di Indonesia Riswanto. 2013. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. 

Yogyakarta : Alfamedia Kanal Medika Rochmah . 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III (5th ed). Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam. Rowe J.W., Et All.2002. Effect Of Insulin And Glucose Infusions On Sympathetic Nervous System Activity In Normal Man. Am Diabetes Assoc. Saryono, Skp., Mkes.2009.Biokimia Hormon. 

Yogyakarta : Nuha Medika. Negeri Semarang Setiadi. 2007. Anatomi Dan Fisiologi Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu Soegondo S.2007. penatalaksanaan diabetes melius terpadu, jakarta, FKUI. Subari,N.D. 2008. Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Keaktifan Penderita Diabetes Melitus Dalam Mengikuti Senam Di Klub Senam Diabetes Melitus Rs. Dr. Oen Solo Baru. 

Universitas Muhammadiah Surakarta Suparmin. 2010. Beda Kadar Glukosa Darah Pada Pria Perokok Dan Bukan Perokok Tembakau Usia 20-60 Tahun Di Salemba Tahun 2009-2010. 

Universitas Indonesia Jakarta. Suyono,dkk. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. Tandra, Hans.2008.Diabetes. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Pearce, Evelyn.2013.Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis Jakarta Gramedia Pustaka Utama. Pepper G. 2007. Insulin. (Diakses tanggal 5 april 2014) Putranti K.H.A. 2008. Analisis Preferensi Dan Persepsi Konsumen Susu Khusus Diabetes Indriani. 

Institut Pertanian Bogor. Thesis. Putri. 2012. Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Labu Siam (Sechium Edule) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikuswistar Yang Diinduksi Aloksan.

 Universitas Diponegoro Yunan. 2015. Hubungan Indeks Masa Tubuh Dengan Kadar Gula Darah.

Comments

Name

Email *

Message *